Image: http://entertainment.harianterbit.com

Image: http://entertainment.harianterbit.com

Saat dua orang memutuskan menikah, itu berarti mereka juga memutuskan untuk hidup bersama.  Keputusan tersebut juga berarti mereka yakin tidak akan berpisah kecuali kematian yang memisahkan. Walaupun demikian, banyak pasangan di zaman sekarang yang memutuskan untuk membuat perjanjian pranikah dengan alasan “bagaimana jika nanti cerai…”

Walaupun alasan tersebut terdengar pesimis, banyak orang yang menganggapnya memiliki sisi positif. Jadi, Sahabat Wemary, di sini kami akan berbagai apa saja yang dapat dituliskan pada surat perjanjian pra-nikah

 

 Pemisahan harta kekayaan

Perjanjian pra nikah tentang pemisahan harta kekayaan biasanya berbicara tentang pembagian harta gono-gini. Harta gono-gini adalah harta yang diperoleh pasangan suami-istri dalam hubungan mereka yang terikat pernikahan. Berdasarkan hokum yang berlaku di Indonesia, pembahasan tentang harta gono-gini harus dilakukan sebelum menikah. Jika hal ini dilaksanakan setelah pernikahan, maka perjanjian tersebut akan batal dan harus dicatat di tempat pencatatan perkawinan.

Dalam perjanjian ini, pasangan suami-istri dapat sepakat agar harta yang mereka bawa masing-masing tidak akan bercampur satu sama lain. Bahkan mereka juga bisa sepakat untuk tidak mencampur harta yang mereka dapatkan selama mereka masih terikat dalam pernikahan. Jika suatu saat terjadi perceraian, maka pembagian harta akan disesuaikan dengan apa yang tertulis pada perjanjian pranikah.

 

 Pemisahan hutang

Sama halnya dengan perjanjian pranikah tentang pemisahan harta kekayaan, perjanjian tentang pemisahan hutang juga dapat dilakukan melalui perjanjian pranikah. Perjanjian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa hutang-hutang pasangan suami-istri sebelum mereka menikah, saat telah terikat dengan pernikahan, bahwa saat mereka telah bercerai, akan ditanggung oleh masing-masing individu.

17714

Tanggung jawab terhadap anak hasil pernikahan

Bukan hanya soal harta, perjanjian pranikah juga dapat berisi perjanjian yang berkaitan dengan tanggung jawab kedua pasangan terhadap anak dari hasil pernikahan mereka. Perjanjian ini tentunya  penting demi kebaikan sang anak. Jika suatu saat pasangan suami-istri tersebut bercerai, maka hak dan kewajiban mereka yang berkaitan dengan pengasuhan anak akan dilakukan sesuai perjanjian pranikah.

 

Hal-hal lain tentang hak dan kewajiban

Perjanjian pranikah tidak harus berisi sesuatu yang sangat serius. Terkadang pasangan yang akan menikah memilih untuk membuat perjanjian berkaitan dengan hal-hal yang cukup sepele, misalnya penentuan tentang siapa yang akan mengurus anak,  kesepakatan mengenai apakah keduanya akan bekerja atau hanya pria yang bekerja, dan sebagainya.

 

 

Written by wemary

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *