Image: Tribun Bali

Image: Tribun Bali

Bali adalah wilayah yang memiliki penduduk yang beragama Hindu terbanyak, yakni sekitar 83,46%. Tata cara persiapan pernikahan Agama Hindu di Indonesia memiliki aturan yang berbeda sesuai etnis. Berikut adalah tata cara persiapan pernikahan dalam agama Hindu di Bali:

 

Padewasaan

Padewasaan atau mencari hari baik dilakukan oleh calon  pria. Dalam tahap ini, calon mempelai pria meminta petunjuk kepada seorang Sulinggih, yaitu orang yang telah mendapat penyucian dari upacara mediksa.  Petunjuk yang diminta biasanya sesuai dengan urutan acara dalam persiapan hingga pernikahan.

 

Pangenten

Pangenten atau pemberitahuan adalah tahap di mana orang tua pengantin pria datang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk meminta persetujuan mengenai hari baik (padewasaan) yang telah direncanakan. Setelah itu, kedua belah pihak akan sepakat untuk mengumumkan rencana pernikahan anak mereka kepada masing-masing keluarga besar.

 

Memadik

Memadik atau melamar adalah tahap di mana keluarga besar dari calon pengantin pria datang ke rumah calon pengantin wanita untuk melakukan lamaran. Pada tahap ini, biasanya ada seorang perwakilan dari calon pengantin pria yang bertugas untuk menyampaikan silsilah keluarga mereka. Pengungkapan silsilah ini bertujuan untuk menghindari adanya pernikahan sedarah.

Memandik menggunakan upakara yang terdiri dari:

  1. Pejati, yaitu upakara pesaksi untuk dihaturkan di pemerajan calon pengantin perempuan
  2. Canang Pangraos, yaitu simbolisasi dari permohonan manusia agar pembicaraannya dapat berjalan sesuai harapan. Dalam prosesi ini akan terdapat banyak pembicaraan yang berkaitan dengan hubungan antara dua orang yang hendak menikah, perencanaan acara pernikahan hingga prosesi pernikahan.
  3. Pagemelan, yaitu acara saserahan yang memiliki bentuk bervariasi, dapat berupa kue, buah-buahan, pakaian atau alat sembahyang, dan sebagainya.

 

k

 

Penjemputan calon pengantin wanita

Jika calon pengantin wanita tidak diboyong pada saat pernikahan, maka calon pengantin pria harus melakukan penjemputan calon pengantin wanita. Pada tahap ini, calon pengantin pria membawa upakara berupa:

  1. Upakara mamerasan berupa pejati asoroh, canang burat mangi lengawangisegehan putih kuning asoroh, dan canang pangerawos
  2. Sarana sebagai penukar air susu dan alas rare (aled rare) berupa basan buat, kain saparadeg, gelang, kalung, pupuk, dan handuk
  3. Upakara pengungkab lawang (jika dilakukan) berupa pejati dan suci alit,  peras pengambean, caru ayam brumbun asoroh, bayekawonan, prayascita, pangulapan, segehan panca warna, segehan seliwah atanding, dan segehan agung. Tujuan upakara pengungkap lawang ialah sebagai penghormatan terhadap keluarga calon pengantin wanita agar hubungan kedua pihak keluarga tetap harmonis, selaras, dan serasi sesuai harapan yang tertulis di kitab suci.

 

Setelah tahap-tahap di atas dilakukan, maka kedua calon mempelai sudah siap untuk melangsungkan pernikahan dan membangun rumah tangga.

Written by wemary

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *